Friday, November 2, 2012

Guru(ku) dan Sekolah Dasar

Berbicara mengenai dunia pendidikan, tak luput dengan kenangan masa SD, karena di Sekolah Dasar itulah semuanya berawal, mengenal yang namanya matematika, Pramuka, IPA, dan lain lain.
tapi mari kita kembali ke awal,. awal sebelum kita memasuki SD. Awal dari segalanya,. 

Yang kala itu ada sebagian SD yang hanya mau menerima murid yang bisa membaca,. Padahal kan itu SD? Disitulah seharusnya mereka diajarkan membaca. Apa para guru di Sekolah Dasar terlalu malas untuk mengajarkan mereka membaca?
Apakah hanya anak anak orang kaya yang sudah bisa membaca karena sudah dimasukkan ke taman kanak kanak atau play group saja yang boleh memasuki SD?
tidak juga, ada banyak kok ibu ibu di luar sana yang sudah mengajarkan anaknya membaca walaupun tidak memasukkan nya ke sekolah taman kanak kanak,. Tapi tentu saja tidak semua ibu,. dan tidak semua anak umur segitu sudah bisa membaca.

dan peran Sekolah Dasar sebagai pendidikan wajib di negeri ini tentunya sangat berperan dalam memberantas buta aksara,. Bukan malah menolak mereka hanya karena tidak bisa membaca,.
kalau dulu bila ingin masuk sekolah dasar, yang paling di permasalahkan paling cuma umur, jika belum mencukupi maka biasanya akan ditolak dan mendaftar lagi tahun depan.

mengingat kembali masa masa di sekolah dasar, satu hal yang paling saya tidak suka di umur saya pada saat itu, dan itu adalah, “TOILET”. Gelap dan bau, kadang tidak ada airnya,. Dan saya yakin, sampai sekarang pun toilet toilet umum juga kebanyakan tidak terawat,



sebagai sekolah yang harusnya mengajarkan kebersihan adalah yang harus di utamakan, tentu saja hal itu bertolak belakang,.  Tidak mungkin kan kita menyuruh anak anak SD itu “piket” bergiliran membersihkan toilet? Mungkin bisa untuk anak anak kelas 6 yang terlambat datang waktu upacara bendera,.
Ataukah kita harus membuat jadwal piket buat para guru untuk membersihkan toilet?  Saya pesimis,.
memang, sebenarnya ada orang yang di tugaskan untuk menjaga kebersihan toilet, tapi karena dia sendirian bertugas membersihkan satu sekolah berikut halaman halamannya yang luas, kebersihan toilet menjadi terbengkalai,. Lagipula dia juga bertugas menjaga kantin sekolah, saat jam istirahat. saya masih ingat, beliau sering menyeduhkan mie buat kami yang kelaparan saat jam istirahat. Bayar tentunya,.

itu tentang kebersihan, tapi tunggu, kita tidak bisa menyalahkan pihak sekolah karena air dari PDAM tidak mengalir, tapi apa dengan begitu kita bebas untuk menyalahkan pemerintah? Kurasa tidak. Atau mungkin saya yang terlalu optimis kalau pemerintah daerah sudah berupaya maksimal menyediakan air untuk warganya, walaupun airnya tetap tidak jalan, dan “walaupun” jalan, airnya juga keruh seperti tanah,.

Teringat kembali saat itu, kami disuruh untuk membawa air ledeng dari rumah sekitar 1 atau 2 liter menggunakan kemasan air mineral, dan kemudian di isikan ke dalam bak bak penampungan di toilet sekolah,. Kurasa kami benar benar kekeringan waktu itu,.

itu hanya masalah tentang kebersihan dan air, seperti masalah toilet toilet umum yang tersebar di tempat tempat lain, masalah selanjutnya adalah gelap, karena lampu yang tidak menyala (atau bahkan tidak ada lampu) dan juga tidak adanya tempat menggantung pakaian. Tentu saja itu adalah masalah masalah yang membuat anak anak ingusan seperti kami sebenarnya enggan menggunakan toilet sekolah, apalagi jika kita terbiasa nyaman dengan toilet rumah yang selalu terang,.

beralih ke tenaga pengajar, wali kelas saya dulu sangat dekat dengan murid muridnya,. Maklum, semua pelajaran di ajarkan oleh wali kelas, kecuali Agama, Olahraga dan B.inggris, waktu itu kami memang sudah diajarkan bahasa inggris saat duduk di kelas 6 SD, anak anak sekarang malah dari kelas 4 udah di ajarkan bhs.ingggris, tapi dengar-dengar kurikulum selanjutnya bakalan menghilangkan bhs. Inggris dari mata pelajaran di karenakan mata pelajaran wajib buat SD sudah terlalu banyak.

Cara pengajaran wali kelas yang mengajarkan semuanya kecuali mata pelajaran tertentu seperti itu juga sebenarnya ada sisi positif dan negatifnya. Apalagi untuk kami yang selama 4 tahun berturut turut memiliki wali kelas yang sama. 
Positifnya tentu saja kami sangat akrab, dan proses belajar mengajar juga mudah. Negatifnya kami jadi kurang dekat dengan guru guru yang lain,. Sistem seperti itu dikarenakan kurangnya jumlah guru yang mengajar di sekolah kami.

Saat kelas 6, Guruku, juga memberikan kami les. Ada hal yang unik dari les tersebut, apa bila kita ikut les biasanya saat mau pulang kami memberikan uang 1000 rupiah kepada guru kami, memang tidak wajib. Jika kita tidak ikut juga tidak bayar, kita ikut pun tapi tidak bayar juga bisa,.  Tidak ada perjanjian yang mengikat, sang guru juga tidak memaksakan,.
Apakah hal seperti itu salah? Aku tidak tau, menurutku dari situ kita juga bisa mengambil pembelajaran, toh materi yang diajarkan juga mudah di serap, dan biasanya juga bisa bersifat mengulang kembali materi yang sudah diberikan, sehingga siswa benar benar paham. Lagipula uang seribu waktu itu bisa dapat apa sih? Untuk kami mungkin Cuma seharga 1 buah minuman dingin. Tak perlu meminta uang kepada orang tuapun kami bisa menyisihkan uang jajan kami untuk mengikuti les tersebut,.

Beliau juga yang membawa kami mengikuti berbagai kejuaraan olimpiade di tingkat provinsi, mengingat kabupaten kami yang berada di sebuah pulau dan memerlukan perjalanan sekitar 8 jam untuk ke ibukota provinsi, walaupun pada saat itu kami hanya meraih juara 2.. tapi pengalamannya untuk saya yang masih kecil itu kayaknya berkesan sekali, melakukan percobaan di sekolah, di rumah guru di belakang sekolah, dll.

bagi saya, guru adalah seperti itu, menemani murid di setiap proses pembelajaran, bukan hanya memberikan ilmu, tapi mengajak mengembangkan ilmu yang telah di berikan, bukan pembelajaran satu arah, tapi meminta feedback dari murid agar terjadi pembelajaran 2 arah, tidak menolak untuk memberikan ilmu dari nol. Membimbing di setiap jenjang pendidikannya,.
Seorang guru yang akan selalu dikenang dan tak akan terganti walau sudah memiliki banyak guru guru yang lain,. Karena saat SD adalah saat saat pembelajaran pertama dengan banyak ilmu baru yang di dapat. Berbeda dengan SMP dan SMA yang merupakan kelanjutan. Sesuai dengan namanya SD yang berarti Sekolah Dasar. jadi, kualitas guru di Sekolah Dasar sangat menentukan kelanjutan jenjang pendidikan anak, baik secara mental maupun akal. 



4 comments:

  1. nice post :) salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya, salam kenal juga,. :)

      Delete
  2. Kunjungan perdana sobat :) slam knal
    visit n koment back y dblogq :)
    klo boleh skalian follow blogq y nnti ak follow balik.

    ReplyDelete