ntah knapa tiba tiba mood ku hancur,.
ini memang malam terakhir, tapi,.
udahlah, mud ku udah hancur,. ngul,.
yang terbayang di otakku hanya,.
ban roda menggelinding,. menyusuri jalanan sepi,.
lampu remang kekuningan menyusuri aspal jalanan,.
memandang bulan dengan hampa,. indah,.
tapi perasaanmu pergi ke teman temanmu,. (yah,klo bisa di sebut teman)
yang bersenang senang dsna tadi,.
mungkin memang yang terakhir, mungkin tidak,.
ntahlah,. aku memang ingin pergi,.
mungkin lebih baik seperti ini,.
mungkin dari dulu memang harus seperti ini,.
kamu kenapa sobat? bangga kah dengan aku?
aku cuma bisa tersenyum mendengar tanyamu,.
tapi tak berani menjawab itu,. aku hanya berpura pura,..
dan mungkin malam ini aku memilih lain,.
terserah apa kalian,.
bulan ku tak lagi bundar,.
pandangan mata akan menurun lagi ke arah tuna wisma,.
saat bulan bersembunyi ke belakang panggung ruko ruko yang tinggi itu,.
mereka tertidur, atau mencoba tidur, aku tak tau,.
miris,.
nanti aku pasti akan mensedekapkan erat kedua tanganku lagi ke badan,.
meringis dingin,.
berharap jaket menjadi tebal saat di butuhkan,..
aku pasti masih akan menatap jendela,.
kadang berharap rintik hujan mengetuk ngetuk kacanya,.
seperti di dalam sinetron...
mungkin aku juga akan menggerutuk kaca kaca itu dengan kuku kuku ku,.
laju mobil tak akan berkurang,.
ada waktu yang harus di kejar kata mereka,.
hampir selalu seperti itu kejadiannya,.
aku akan pergi,. di tengah dingin pagi,.
mencoba menghapus semua tawa sakit yang terbayang di bulan Juni,.
dan memilih menyambut cahaya matahari hangat yang terbalut sepi,..
No comments:
Post a Comment